
Kamis, 17 Agt 2006,
Menyiapkan Masakan Jatim untuk Resepsi HUT RI di Istana Negara
Berawal dari Rawon Setan yang Bikin SBY Penasaran
Makanan khas Jawa Timur mendapat kehormatan menjadi salah satu sajian utama resepsi peringatan HUT ke-61 Kemerdekaan RI di Istana Negara nanti malam. Makanan itu disiapkan koki-koki jempolan dari Surabaya.
FIRZAN SYAHRONI, Surabaya
DENGAN mata masih terlihat lelah, Lisidu mengomando karyawannya. "Ayo, naikkan keranjang itu ke bus. Awas, jangan sampai jatuh," ujarnya. Keranjang berisi bahan-bahan masakan itu pun diangkut beramai-ramai. Ada juga peralatan memasak yang dikemas rapi dalam kardus.
Saat itu jarum jam baru bergerak di angka pukul 04.00. Tapi, kesibukan sudah tampak di rumah makan Sate Ayam Lisidu, Jl Barata Jaya. Lisidu, bos rumah makan itu, memang termasuk salah seorang yang dipercaya membawa masakan untuk disajikan dalam resepsi kenegaraan di Istana Negara nanti malam. Tentu saja, pemilik nama aneh itu tak menyia-siakan kesempatan emas itu. Dia sadar, menyajikan makanan kepada presiden dan para tamunya harus dibuat seistimewa mungkin. Apalagi, acara itu juga dihadiri duta besar negara-negara sahabat.
Bagi pria berambut panjang ini, mendapat undangan dari Istana Negara merupakan kebanggaan yang luar biasa. Apalagi, tidak semua orang bisa keluar-masuk istana sakral itu. "Pejabat pemprov saja sulit masuk, apalagi saya yang hanya penjual sate," katanya bangga.
Meski begitu, Lisidu mengaku grogi dan khawatir masakannya nanti bakal tidak diminati tetamu penting itu. Saking groginya, Lisidu sampai tidak bisa tidur selama tiga hari. "Tapi, saya punya prinsip, harus bisa memberikan yang terbaik," katanya.
Berbekal keyakinan itu, Lisidu melakukan berbagai persiapan. Sejak sebulan lalu, begitu mendapat kabar dari Jakarta, dia langsung mengerahkan seluruh karyawan untuk mencari ayam-ayam berkualitas yang akan disajikan. "Ayam yang dibikin sate kita seleksi secara khusus," katanya.
Ayam-ayam pilihan itu lalu dipotong dan disimpan secara khusus sebelum diberangkatkan ke Jakarta. Lisidu memang tidak membawa masakan siap saji. Hampir semua bahan masakan dibawa ke Jakarta dalam bentuk setengah jadi. "Biar fresh kita masak di Jakarta, beberapa jam sebelum disajikan," ujarnya.
Khusus untuk bumbu-bumbunya, Lisidu sendiri yang meracik. Tidak boleh ada tangan lain. Itu untuk menjaga kualitas dan keistimewaan rasa. Setelah semua siap, semua bahan masakan itu diangkut bus yang disewanya sendiri.
Kemarin pagi, rombongan sate Lisidu berangkat ke Jakarta. Lisidu mengaku, misi masakan Jatim kali ini terbilang "berat". "Pak Noer (mantan Gubernur Jatim HM. Noer, Red) berpesan agar kami tidak mengecewakan warga Jatim, HM. Noer, dan makanan khas Jatim. Mudah-mudahan kami bisa mengemban kepercayaan ini," ujarnya.
Selain sate Lisidu, Jatim juga membawa nasi kebuli, kambing guling, nasi samin, sate kambing Timur Tengah dan kambing oven. Khusus untuk rombongan kambing guling tidak dinaikkan bus. Mereka naik pesawat. "Kalau terlalu lama di perjalanan, khawatir rasanya bisa berubah," ujar Lisidu.
Ketua Persatuan Pedagang Makanan Tradisional (PPMT) Jatim H Achmad Zaini menjelaskan, rombongan dari Jatim tidak langsung menuju Istana Negara. "Kita menyewa mess Kostrad di Jl Matraman Raya untuk markas rombongan masakan Jatim," katanya.
Di dalam mess itulah seluruh makanan diolah hingga masak dan siap disajikan. Seluruh masakan itu dijadwalkan sudah matang sore ini. Tapi, sebelum masuk ruang resepsi, masakan itu mesti melalui pemeriksaan ketat petugas khusus dari kepresidenan. Juga pencicipan rasa. Bila dinilai tidak layak, pasti tidak boleh disajikan dalam jamuan makan malam spesial itu.
"Makanan itu akan dites oleh tim dokter kepresidenan, lalu diperiksa lagi oleh tim dapur istana. Pokoknya, ketat sekali," terang Zaini.
Zaini mengisahkan awal mula ketertarikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap makanan Jatim. Menurut dia, semua berawal dari pertemuan SBY dengan sejumlah tokoh Jatim pada pertengahan 2005. Di antaranya Zaini yang tokoh intelektual Madura bersama HM. Noer.
Dalam acara santap malam, SBY mengungkapkan ketertarikannya pada rawon setan Jl Embong Malang. "Beliau dan Bu Ani Yudhoyono meminta saya membawakan rawon itu," katanya.
Zaini pun menyatakan kesediaannya. "Saya juga menawarkan kepada presiden, bagaimana kalau saya bawakan juga makanan khas Jatim yang lain. Beliau setuju," ujarnya. Selang sebulan kemudian, Zaini balik ke Istana Negara. Dia memenuhi janjinya, membawakan pesanan makanan SBY.
Awal 2006, Zaini dikontak panitia HUT Ke-61 RI Kepresidenan di Jakarta. Dia diminta menyediakan masakan untuk sajian malam puncak resepsi HUT RI yang lokasinya di kebun halaman belakang Istana Negara. Di sana, masakan Jatim mendapat jatah sembilan stan. Tapi, jenis masakannya ditentukan panitia. "Mereka pesannya makanan yang berbau Arab, tapi tetap ala Jatim. Mungkin karena sebagian tamu berasal dari Timur Tengah," ujar Zaini.
Untuk memenuhi pesanan istana, Zaini mengaku menghabiskan dana Rp 130 juta. Dana sebesar itu didapat dari sumbangan para pengusaha makanan. "Pak Noer juga ikut membantu kami. Karena itu, kami berterima kasih pada beliau," katanya.
Selain untuk biaya masakan, fulus sebesar itu juga dipakai untuk menyewa mess Kostrad. "Kita sengaja tidak menempati rumah perwakilan Pemprov Jatim di Jakarta. Kita tidak ingin memberatkan pemprov," tutur pria yang juga menjabat ketua Forum Intelektual Indonesia ini. (*)
Kamis, 30 Oktober 2008
ISTANA CICIPI MENU KHAS JATIM
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar