Jumat, 14 Jan 2005,
Ratusan Yatim Dievakuasi
BANDA ACEH - Bencana tsunami yang menenggelamkan sebagian kawasan Pulo Aceh, Aceh Besar, membuat ratusan anak kehilangan orang tuanya. Kemarin, para yatim piatu yang selama beberapa hari terlunta-lunta di pulau kecil itu diboyong ke Banda Aceh. Mereka ditempatkan di berbagai lokasi penampungan yang tersebar di Kota Serambi Makkah itu.
Anak-anak yang sebagian besar berusia di bawah 15 tahun itu diangkut kapal feri melintasi laut. Mereka didampingi para perangkat desa serta para tokoh masyarakat Pulo Aceh. Ratusan bocah itu berasal dari Desa Lampuyang, Lhooh, Paloh, dan Gugop.
Pulo Aceh adalah sebuah kota kecil yang berada
di bawah Kabupaten Aceh Besar. Kota ini berada di pulau kecil dekat Sabang. Perjalanan menuju Kota Banda Aceh bisa ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam. Di Banda Aceh, mereka ditempatkan di beberapa lokasi penampungan khusus
anak-anak korban tsunami. Salah satu lokasi penampungan adalah Pondok Pesantren (Ponpes) Babun Najah di Ulee Kareng.
Wartawan koran ini, Firzan Syahroni, kemarin mengunjungi ponpes itu. Di sana, terdapat 87 yatim piatu asal Pulo Aceh yang semuanya perempuan. "Di sini, memang khusus putri. Yang putra kami tempatkan di lokasi terpisah, yaitu di Ponpes Dayah Naruzzahidin" terang Rizki Multazam, salah seorang pengurus Ponpes Babun Najah.
Para yatim piatu itu ditempatkan di beberapa pendapa sederhana berlantai papan kayu. Wajah polos mereka terlihat murung dan sedih. Maklum, mereka baru saja mengalami peristiwa dahsyat yang tak mungkin terlupakan seumur hidup.
Nursanti, 10, dan Ramadhani, 11, termasuk dua di antara sekian banyak anak yang selamat dari bencana tersebut. Dua bersahabat itu duduk satu bangku di kelas 5 SDN Lampuyang II, Pulo Aceh. Mereka tampak malu-malu ketika diwawancarai koran ini. Meski demikian, Ramadhani bersedia menceritakan sekelumit pengalamannya saat bencana maut itu meluluhlantakkan Pulo Aceh.
"Waktu itu, kami sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler senam kesegaran jasmani," ujar Ramadhani,
mengawali kisahnya. "Tiba-tiba, ada gempa. Pak guru meminta kami supaya berpegangan tangan," lanjutnya. Tak lama setelah gempa reda, tiba-tiba air laut datang dengan
dahsyatnya. "Pak guru berteriak-teriak. Beliau menyuruh kami lari ke pegunungan," ujar Ramadhani. Untung, sekolah mereka
tak jauh dari pegunungan tersebut. Ramadhani dan Nursanti berlarian ke gunung itu sambil berpegangan tangan. Puluhan siswa lain mengikuti langkah mereka. Dua anak tersebut terus
berlari ke puncak perbukitan. Di belakangnya, air laut terasa kian mendekat. "Bunyi airnya sangat kencang. Warnanya
hitam. Kami takut sekali waktu itu," kata Ramadhani sambil menutup wajah dengan kedua tangannya yang
kurus.
Sesampai di puncak gunung, mereka menyaksikan tanah kelahirannya tenggelam. "Saya tidak tahu lagi di
mana keluarga saya," katanya. Setelah tiga jam menunggu di gunung, air laut pun surut. Ramadhani dan Nursanti pulang ke rumahnya masing-masing di Desa Lampuyang. "Saya menangis melihat rumah saya sudah habis," tutur Ramadhani. Ibu dan saudara-saudaranya hingga kini tidak jelas
keberadaannya.
Nasib Nursanti lebih beruntung. Dia masih bisa bertemu beberapa kakaknya. Namun, adik bungsunya, Rahmad Rizki, 2, dalam kondisi kritis karena sempat hanyut terbawa tsunami.
Ramadhani dan Nursanti ditampung di rumah perangkat Desa Lampuyang. Mereka bertahan hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Selama beberapa hari, mereka tidak mendapat makanan yang layak. Maklum, jalur distribusi makanan dari Aceh terputus total. Kapal-kapal tidak ada yang
berani berlayar ke Pulo Aceh. Selama beberapa hari, Nursanti, Ramadhani, dan ratusan anak hidup terlunta-lunta. Situasi
bertambah sulit ketika kondisi Rahmad Rizki kian kritis. Dia sering menangis dan tidak mau makan.
"Badan adik sering panas, seperti kena demam," ujar Nursanti.
Tiga hari lalu, rombongan Ponpes Ulee Kareng tiba di pulau tersebut. Mereka membawa ratusan bocah itu ke ponpesnya di Banda Aceh. Nasib nahas menimpa Rizki. Bocah tersebut meninggal di gendongan Nursanti dalam perjalanan menuju Banda Aceh. "Saya nggak tahu adik sakit apa.
Saya baru tahu dia meninggal dunia saat kapal mau sampai di Aceh," aku Nursanti.
Di Ponpes Babun Najah, anak-anak yatim piatu itu dirawat dengan baik. Namun, mereka belum bisa
melanjutkan sekolahnya. "Sekolah di sini banyak yang hancur. Jadi, terpaksa mereka belum bisa kami sekolahkan," ujar Rizki Multazam, pengurus Ponpes Babun Najah.
Sepanjang pagi hingga malam, anak-anak tersebut hanya mendapat pelajaran agama. "Sarana dan prasarana pendidikan kami tidak memadai. Jadi, terpaksa anak-anak hanya kami bekali ilmu agama. Mudah-mudahan, ada donatur yang bersedia membantu pendidikan mereka," harap
Rizki. (*)
Selengkapnya...
Kamis, 30 Oktober 2008
TSUNAMI LULUHLANTAKKAN ACEH(1)
ISTANA CICIPI MENU KHAS JATIM

Kamis, 17 Agt 2006,
Menyiapkan Masakan Jatim untuk Resepsi HUT RI di Istana Negara
Berawal dari Rawon Setan yang Bikin SBY Penasaran
Makanan khas Jawa Timur mendapat kehormatan menjadi salah satu sajian utama resepsi peringatan HUT ke-61 Kemerdekaan RI di Istana Negara nanti malam. Makanan itu disiapkan koki-koki jempolan dari Surabaya.
FIRZAN SYAHRONI, Surabaya
DENGAN mata masih terlihat lelah, Lisidu mengomando karyawannya. "Ayo, naikkan keranjang itu ke bus. Awas, jangan sampai jatuh," ujarnya. Keranjang berisi bahan-bahan masakan itu pun diangkut beramai-ramai. Ada juga peralatan memasak yang dikemas rapi dalam kardus.
Saat itu jarum jam baru bergerak di angka pukul 04.00. Tapi, kesibukan sudah tampak di rumah makan Sate Ayam Lisidu, Jl Barata Jaya. Lisidu, bos rumah makan itu, memang termasuk salah seorang yang dipercaya membawa masakan untuk disajikan dalam resepsi kenegaraan di Istana Negara nanti malam. Tentu saja, pemilik nama aneh itu tak menyia-siakan kesempatan emas itu. Dia sadar, menyajikan makanan kepada presiden dan para tamunya harus dibuat seistimewa mungkin. Apalagi, acara itu juga dihadiri duta besar negara-negara sahabat.
Bagi pria berambut panjang ini, mendapat undangan dari Istana Negara merupakan kebanggaan yang luar biasa. Apalagi, tidak semua orang bisa keluar-masuk istana sakral itu. "Pejabat pemprov saja sulit masuk, apalagi saya yang hanya penjual sate," katanya bangga.
Meski begitu, Lisidu mengaku grogi dan khawatir masakannya nanti bakal tidak diminati tetamu penting itu. Saking groginya, Lisidu sampai tidak bisa tidur selama tiga hari. "Tapi, saya punya prinsip, harus bisa memberikan yang terbaik," katanya.
Berbekal keyakinan itu, Lisidu melakukan berbagai persiapan. Sejak sebulan lalu, begitu mendapat kabar dari Jakarta, dia langsung mengerahkan seluruh karyawan untuk mencari ayam-ayam berkualitas yang akan disajikan. "Ayam yang dibikin sate kita seleksi secara khusus," katanya.
Ayam-ayam pilihan itu lalu dipotong dan disimpan secara khusus sebelum diberangkatkan ke Jakarta. Lisidu memang tidak membawa masakan siap saji. Hampir semua bahan masakan dibawa ke Jakarta dalam bentuk setengah jadi. "Biar fresh kita masak di Jakarta, beberapa jam sebelum disajikan," ujarnya.
Khusus untuk bumbu-bumbunya, Lisidu sendiri yang meracik. Tidak boleh ada tangan lain. Itu untuk menjaga kualitas dan keistimewaan rasa. Setelah semua siap, semua bahan masakan itu diangkut bus yang disewanya sendiri.
Kemarin pagi, rombongan sate Lisidu berangkat ke Jakarta. Lisidu mengaku, misi masakan Jatim kali ini terbilang "berat". "Pak Noer (mantan Gubernur Jatim HM. Noer, Red) berpesan agar kami tidak mengecewakan warga Jatim, HM. Noer, dan makanan khas Jatim. Mudah-mudahan kami bisa mengemban kepercayaan ini," ujarnya.
Selain sate Lisidu, Jatim juga membawa nasi kebuli, kambing guling, nasi samin, sate kambing Timur Tengah dan kambing oven. Khusus untuk rombongan kambing guling tidak dinaikkan bus. Mereka naik pesawat. "Kalau terlalu lama di perjalanan, khawatir rasanya bisa berubah," ujar Lisidu.
Ketua Persatuan Pedagang Makanan Tradisional (PPMT) Jatim H Achmad Zaini menjelaskan, rombongan dari Jatim tidak langsung menuju Istana Negara. "Kita menyewa mess Kostrad di Jl Matraman Raya untuk markas rombongan masakan Jatim," katanya.
Di dalam mess itulah seluruh makanan diolah hingga masak dan siap disajikan. Seluruh masakan itu dijadwalkan sudah matang sore ini. Tapi, sebelum masuk ruang resepsi, masakan itu mesti melalui pemeriksaan ketat petugas khusus dari kepresidenan. Juga pencicipan rasa. Bila dinilai tidak layak, pasti tidak boleh disajikan dalam jamuan makan malam spesial itu.
"Makanan itu akan dites oleh tim dokter kepresidenan, lalu diperiksa lagi oleh tim dapur istana. Pokoknya, ketat sekali," terang Zaini.
Zaini mengisahkan awal mula ketertarikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap makanan Jatim. Menurut dia, semua berawal dari pertemuan SBY dengan sejumlah tokoh Jatim pada pertengahan 2005. Di antaranya Zaini yang tokoh intelektual Madura bersama HM. Noer.
Dalam acara santap malam, SBY mengungkapkan ketertarikannya pada rawon setan Jl Embong Malang. "Beliau dan Bu Ani Yudhoyono meminta saya membawakan rawon itu," katanya.
Zaini pun menyatakan kesediaannya. "Saya juga menawarkan kepada presiden, bagaimana kalau saya bawakan juga makanan khas Jatim yang lain. Beliau setuju," ujarnya. Selang sebulan kemudian, Zaini balik ke Istana Negara. Dia memenuhi janjinya, membawakan pesanan makanan SBY.
Awal 2006, Zaini dikontak panitia HUT Ke-61 RI Kepresidenan di Jakarta. Dia diminta menyediakan masakan untuk sajian malam puncak resepsi HUT RI yang lokasinya di kebun halaman belakang Istana Negara. Di sana, masakan Jatim mendapat jatah sembilan stan. Tapi, jenis masakannya ditentukan panitia. "Mereka pesannya makanan yang berbau Arab, tapi tetap ala Jatim. Mungkin karena sebagian tamu berasal dari Timur Tengah," ujar Zaini.
Untuk memenuhi pesanan istana, Zaini mengaku menghabiskan dana Rp 130 juta. Dana sebesar itu didapat dari sumbangan para pengusaha makanan. "Pak Noer juga ikut membantu kami. Karena itu, kami berterima kasih pada beliau," katanya.
Selain untuk biaya masakan, fulus sebesar itu juga dipakai untuk menyewa mess Kostrad. "Kita sengaja tidak menempati rumah perwakilan Pemprov Jatim di Jakarta. Kita tidak ingin memberatkan pemprov," tutur pria yang juga menjabat ketua Forum Intelektual Indonesia ini. (*)
Selengkapnya...
Catatan Metropolis

[ Rabu, 27 Agustus 2008 ]
Pasar (Politik) Turi dan Identitas Kota
Catatan Firzan Syahroni
Wartawan Jawa Pos
Pasar adalah identitas sesungguhnya dari sebuah kota. Ungkapan itu, menurut saya, ada benarnya. Sebab, pasar menggambarkan sebuah komunitas asli masyarakat kota.
***
Bagaimana Pasar Turi? Saya menganggap Pasar Turi juga identitas Surabaya. Bahkan, setelah terbakar pun, tetap menjadi ikon kota. Tapi, saat ini saya lebih suka memandangnya dari sisi politik. Apa hubungan Pasar Turi dengan politik? Pasar Turi adalah aset pemkot penghasil PAD (pendapatan asli daerah). Setiap tahun Pasar Turi (sebelum terbakar) menyumbang sekitar Rp 8 miliar. Karena terkait PAD, pembahasan target pendapatan selalu dibahas bersama dengan DPRD Surabaya, yang juga orang-orang politik.Di masa lalu, konon, Pasar Turi sering dijadikan ''hadiah'' politik. Para politisi yang mendukung kebijakan pejabat pemkot, kabarnya, sering mendapat bonus stan gratis. Atau, sekalipun tidak gratis, mereka bisa membeli stan dengan diskon gila-gilaan. Bisa jadi, hal itu juga yang membuat jumlah stan menurut pemkot dan asosiasi pedagang tidak pernah sama.
Kedekatan Pasar Turi dengan politik juga tampak dari latar belakang pedagang. Tidak sedikit pedagang yang menjadi pengurus partai. Mulai partai peraih kursi parlemen hingga partai gurem. Mereka rata-rata memiliki stan lebih dari satu. Tentu tidak semuanya mendapat stan melalui ''hadiah'' politik tadi. Ada juga yang membeli melalui jalur resmi meski saya yakin jumlahnya tidak banyak. Dalam pemilihan gubernur tahun ini, banyak pentolan pedagang yang menjadi tim sukses kandidat. Di antara pedagang, ada juga yang berprofesi sebagai anggota KPU. Klop. Ada pengurus partai, pejabat politik, dan anggota KPU. Sengketa pilkada mungkin bisa selesai dalam lobi antarstan. He... he..
Saat Pasar Turi ludes dilalap api setahun lalu, para politisi itu pun berlomba-lomba muncul ke permukaan. Mereka menjadikan Pasar Turi sebagai panggung politik untuk merebut konstituen. Ada parpol yang mendirikan tenda kepedulian, ada juga politisi yang masuk dalam tim pemulihan Pasar Turi (meski saat ini Pasar Turi tak kunjung pulih). Semuanya mengaku memperjuangkan kepentingan pedagang. Sejumlah kontraktor yang memiliki kedekatan dengan kalangan politisi pun ingin ikut ''bermain''.
Kini, lebih setahun Pasar Turi terbakar. Tapi, tanda-tanda perbaikan tak kunjung tampak. Jangankan merevitalisasi bangunan Pasar Turi, pembangunan TPS (tempat penampungan sementara) saja tak kunjung tuntas. Belakangan sejumlah pedagang malah memolisikan Wali Kota Bambang D.H.. Mereka menuding ada ketidakberesan pada anggaran pembangunan TPS Rp 18,8 miliar. Di antara sejumlah pedagang yang mempolisikan wali kota itu, ada juga politiskus beda partai dengan Bambang D.H. Pembangunan Pasar Turi pun kian gelap.
Keputusan kini bergantung pada para pemimpin kota ini. Ketika aroma politik tak terhindarkan lagi, hanya ada dua langkah yang bisa diambil untuk menyelamatkan Pasar Turi dan ribuan pedagangnya. Pertama, bersikap tegas dan konsisten sesuai aturan tanpa memedulikan intervensi politik. Atau, melakukan lobi-lobi politik dengan konsekuensi pembagian ''kue'' secara merata. Tentu saja, opsi manapun yang dipilih, jangan sampai merugikan kepentingan para pedagang Pasar Turi dan warga Surabaya.
***
Bagaimanapun, Pasar Turi adalah identitas Surabaya. Segala keruwetan yang terjadi di dalamnya adalah gambaran sesungguhnya komunitas kota ini. Mau tahu jerohan warga Surabaya? Lihat saja pasarnya. oni@jawapos.co.id
Selengkapnya...
Catatan Metropolis
[ Rabu, 27 Agustus 2008 ]
Pasar (Politik) Turi dan Identitas Kota
Catatan Firzan Syahroni
Wartawan Jawa Pos
Pasar adalah identitas sesungguhnya dari sebuah kota. Ungkapan itu, menurut saya, ada benarnya. Sebab, pasar menggambarkan sebuah komunitas asli masyarakat kota.
***
Bagaimana Pasar Turi? Saya menganggap Pasar Turi juga identitas Surabaya. Bahkan, setelah terbakar pun, tetap menjadi ikon kota. Tapi, saat ini saya lebih suka memandangnya dari sisi politik. Apa hubungan Pasar Turi dengan politik? Pasar Turi adalah aset pemkot penghasil PAD (pendapatan asli daerah). Setiap tahun Pasar Turi (sebelum terbakar) menyumbang sekitar Rp 8 miliar. Karena terkait PAD, pembahasan target pendapatan selalu dibahas bersama dengan DPRD Surabaya, yang juga orang-orang politik.
Di masa lalu, konon, Pasar Turi sering dijadikan ''hadiah'' politik. Para politisi yang mendukung kebijakan pejabat pemkot, kabarnya, sering mendapat bonus stan gratis. Atau, sekalipun tidak gratis, mereka bisa membeli stan dengan diskon gila-gilaan. Bisa jadi, hal itu juga yang membuat jumlah stan menurut pemkot dan asosiasi pedagang tidak pernah sama.
Kedekatan Pasar Turi dengan politik juga tampak dari latar belakang pedagang. Tidak sedikit pedagang yang menjadi pengurus partai. Mulai partai peraih kursi parlemen hingga partai gurem. Mereka rata-rata memiliki stan lebih dari satu. Tentu tidak semuanya mendapat stan melalui ''hadiah'' politik tadi. Ada juga yang membeli melalui jalur resmi meski saya yakin jumlahnya tidak banyak. Dalam pemilihan gubernur tahun ini, banyak pentolan pedagang yang menjadi tim sukses kandidat. Di antara pedagang, ada juga yang berprofesi sebagai anggota KPU. Klop. Ada pengurus partai, pejabat politik, dan anggota KPU. Sengketa pilkada mungkin bisa selesai dalam lobi antarstan. He... he..
Saat Pasar Turi ludes dilalap api setahun lalu, para politisi itu pun berlomba-lomba muncul ke permukaan. Mereka menjadikan Pasar Turi sebagai panggung politik untuk merebut konstituen. Ada parpol yang mendirikan tenda kepedulian, ada juga politisi yang masuk dalam tim pemulihan Pasar Turi (meski saat ini Pasar Turi tak kunjung pulih). Semuanya mengaku memperjuangkan kepentingan pedagang. Sejumlah kontraktor yang memiliki kedekatan dengan kalangan politisi pun ingin ikut ''bermain''.
Kini, lebih setahun Pasar Turi terbakar. Tapi, tanda-tanda perbaikan tak kunjung tampak. Jangankan merevitalisasi bangunan Pasar Turi, pembangunan TPS (tempat penampungan sementara) saja tak kunjung tuntas. Belakangan sejumlah pedagang malah memolisikan Wali Kota Bambang D.H.. Mereka menuding ada ketidakberesan pada anggaran pembangunan TPS Rp 18,8 miliar. Di antara sejumlah pedagang yang mempolisikan wali kota itu, ada juga politiskus beda partai dengan Bambang D.H. Pembangunan Pasar Turi pun kian gelap.
Keputusan kini bergantung pada para pemimpin kota ini. Ketika aroma politik tak terhindarkan lagi, hanya ada dua langkah yang bisa diambil untuk menyelamatkan Pasar Turi dan ribuan pedagangnya. Pertama, bersikap tegas dan konsisten sesuai aturan tanpa memedulikan intervensi politik. Atau, melakukan lobi-lobi politik dengan konsekuensi pembagian ''kue'' secara merata. Tentu saja, opsi manapun yang dipilih, jangan sampai merugikan kepentingan para pedagang Pasar Turi dan warga Surabaya.
***
Bagaimanapun, Pasar Turi adalah identitas Surabaya. Segala keruwetan yang terjadi di dalamnya adalah gambaran sesungguhnya komunitas kota ini. Mau tahu jerohan warga Surabaya? Lihat saja pasarnya. oni@jawapos.co.id
Selengkapnya...
