[ Rabu, 27 Agustus 2008 ]
Pasar (Politik) Turi dan Identitas Kota
Catatan Firzan Syahroni
Wartawan Jawa Pos
Pasar adalah identitas sesungguhnya dari sebuah kota. Ungkapan itu, menurut saya, ada benarnya. Sebab, pasar menggambarkan sebuah komunitas asli masyarakat kota.
***
Bagaimana Pasar Turi? Saya menganggap Pasar Turi juga identitas Surabaya. Bahkan, setelah terbakar pun, tetap menjadi ikon kota. Tapi, saat ini saya lebih suka memandangnya dari sisi politik. Apa hubungan Pasar Turi dengan politik? Pasar Turi adalah aset pemkot penghasil PAD (pendapatan asli daerah). Setiap tahun Pasar Turi (sebelum terbakar) menyumbang sekitar Rp 8 miliar. Karena terkait PAD, pembahasan target pendapatan selalu dibahas bersama dengan DPRD Surabaya, yang juga orang-orang politik.
Di masa lalu, konon, Pasar Turi sering dijadikan ''hadiah'' politik. Para politisi yang mendukung kebijakan pejabat pemkot, kabarnya, sering mendapat bonus stan gratis. Atau, sekalipun tidak gratis, mereka bisa membeli stan dengan diskon gila-gilaan. Bisa jadi, hal itu juga yang membuat jumlah stan menurut pemkot dan asosiasi pedagang tidak pernah sama.
Kedekatan Pasar Turi dengan politik juga tampak dari latar belakang pedagang. Tidak sedikit pedagang yang menjadi pengurus partai. Mulai partai peraih kursi parlemen hingga partai gurem. Mereka rata-rata memiliki stan lebih dari satu. Tentu tidak semuanya mendapat stan melalui ''hadiah'' politik tadi. Ada juga yang membeli melalui jalur resmi meski saya yakin jumlahnya tidak banyak. Dalam pemilihan gubernur tahun ini, banyak pentolan pedagang yang menjadi tim sukses kandidat. Di antara pedagang, ada juga yang berprofesi sebagai anggota KPU. Klop. Ada pengurus partai, pejabat politik, dan anggota KPU. Sengketa pilkada mungkin bisa selesai dalam lobi antarstan. He... he..
Saat Pasar Turi ludes dilalap api setahun lalu, para politisi itu pun berlomba-lomba muncul ke permukaan. Mereka menjadikan Pasar Turi sebagai panggung politik untuk merebut konstituen. Ada parpol yang mendirikan tenda kepedulian, ada juga politisi yang masuk dalam tim pemulihan Pasar Turi (meski saat ini Pasar Turi tak kunjung pulih). Semuanya mengaku memperjuangkan kepentingan pedagang. Sejumlah kontraktor yang memiliki kedekatan dengan kalangan politisi pun ingin ikut ''bermain''.
Kini, lebih setahun Pasar Turi terbakar. Tapi, tanda-tanda perbaikan tak kunjung tampak. Jangankan merevitalisasi bangunan Pasar Turi, pembangunan TPS (tempat penampungan sementara) saja tak kunjung tuntas. Belakangan sejumlah pedagang malah memolisikan Wali Kota Bambang D.H.. Mereka menuding ada ketidakberesan pada anggaran pembangunan TPS Rp 18,8 miliar. Di antara sejumlah pedagang yang mempolisikan wali kota itu, ada juga politiskus beda partai dengan Bambang D.H. Pembangunan Pasar Turi pun kian gelap.
Keputusan kini bergantung pada para pemimpin kota ini. Ketika aroma politik tak terhindarkan lagi, hanya ada dua langkah yang bisa diambil untuk menyelamatkan Pasar Turi dan ribuan pedagangnya. Pertama, bersikap tegas dan konsisten sesuai aturan tanpa memedulikan intervensi politik. Atau, melakukan lobi-lobi politik dengan konsekuensi pembagian ''kue'' secara merata. Tentu saja, opsi manapun yang dipilih, jangan sampai merugikan kepentingan para pedagang Pasar Turi dan warga Surabaya.
***
Bagaimanapun, Pasar Turi adalah identitas Surabaya. Segala keruwetan yang terjadi di dalamnya adalah gambaran sesungguhnya komunitas kota ini. Mau tahu jerohan warga Surabaya? Lihat saja pasarnya. oni@jawapos.co.id
Kamis, 30 Oktober 2008
Catatan Metropolis
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar