Minggu, 24 Juni 2012

Halooo..

Setelah sekian tahun, akhirnya blog ini bisa aku buka lagi. Kangen juga bermain-main dengan blog. Tapi, kesibukan membuat acara go-blog menjadi terbengkalai. Banyak perubahan dalam hidupku setelah sekian tahun tidak nge-blog. Misalnya, sekarang aku sudah menjadi redaktur di Jawa Pos. Selain itu, istriku kini mengandung anakku yang kedua. Nah...tunggu saja kabar berikutnya Selengkapnya...

Kamis, 30 Oktober 2008

TSUNAMI LULUHLANTAKKAN ACEH(1)


Jumat, 14 Jan 2005,
Ratusan Yatim Dievakuasi

BANDA ACEH - Bencana tsunami yang menenggelamkan sebagian kawasan Pulo Aceh, Aceh Besar, membuat ratusan anak kehilangan orang tuanya. Kemarin, para yatim piatu yang selama beberapa hari terlunta-lunta di pulau kecil itu diboyong ke Banda Aceh. Mereka ditempatkan di berbagai lokasi penampungan yang tersebar di Kota Serambi Makkah itu.

Anak-anak yang sebagian besar berusia di bawah 15 tahun itu diangkut kapal feri melintasi laut. Mereka didampingi para perangkat desa serta para tokoh masyarakat Pulo Aceh. Ratusan bocah itu berasal dari Desa Lampuyang, Lhooh, Paloh, dan Gugop.
Pulo Aceh adalah sebuah kota kecil yang berada
di bawah Kabupaten Aceh Besar. Kota ini berada di pulau kecil dekat Sabang. Perjalanan menuju Kota Banda Aceh bisa ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam. Di Banda Aceh, mereka ditempatkan di beberapa lokasi penampungan khusus
anak-anak korban tsunami. Salah satu lokasi penampungan adalah Pondok Pesantren (Ponpes) Babun Najah di Ulee Kareng.
Wartawan koran ini, Firzan Syahroni, kemarin mengunjungi ponpes itu. Di sana, terdapat 87 yatim piatu asal Pulo Aceh yang semuanya perempuan. "Di sini, memang khusus putri. Yang putra kami tempatkan di lokasi terpisah, yaitu di Ponpes Dayah Naruzzahidin" terang Rizki Multazam, salah seorang pengurus Ponpes Babun Najah.
Para yatim piatu itu ditempatkan di beberapa pendapa sederhana berlantai papan kayu. Wajah polos mereka terlihat murung dan sedih. Maklum, mereka baru saja mengalami peristiwa dahsyat yang tak mungkin terlupakan seumur hidup.
Nursanti, 10, dan Ramadhani, 11, termasuk dua di antara sekian banyak anak yang selamat dari bencana tersebut. Dua bersahabat itu duduk satu bangku di kelas 5 SDN Lampuyang II, Pulo Aceh. Mereka tampak malu-malu ketika diwawancarai koran ini. Meski demikian, Ramadhani bersedia menceritakan sekelumit pengalamannya saat bencana maut itu meluluhlantakkan Pulo Aceh.
"Waktu itu, kami sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler senam kesegaran jasmani," ujar Ramadhani,
mengawali kisahnya. "Tiba-tiba, ada gempa. Pak guru meminta kami supaya berpegangan tangan," lanjutnya. Tak lama setelah gempa reda, tiba-tiba air laut datang dengan
dahsyatnya. "Pak guru berteriak-teriak. Beliau menyuruh kami lari ke pegunungan," ujar Ramadhani. Untung, sekolah mereka
tak jauh dari pegunungan tersebut. Ramadhani dan Nursanti berlarian ke gunung itu sambil berpegangan tangan. Puluhan siswa lain mengikuti langkah mereka. Dua anak tersebut terus
berlari ke puncak perbukitan. Di belakangnya, air laut terasa kian mendekat. "Bunyi airnya sangat kencang. Warnanya
hitam. Kami takut sekali waktu itu," kata Ramadhani sambil menutup wajah dengan kedua tangannya yang
kurus.
Sesampai di puncak gunung, mereka menyaksikan tanah kelahirannya tenggelam. "Saya tidak tahu lagi di
mana keluarga saya," katanya. Setelah tiga jam menunggu di gunung, air laut pun surut. Ramadhani dan Nursanti pulang ke rumahnya masing-masing di Desa Lampuyang. "Saya menangis melihat rumah saya sudah habis," tutur Ramadhani. Ibu dan saudara-saudaranya hingga kini tidak jelas
keberadaannya.
Nasib Nursanti lebih beruntung. Dia masih bisa bertemu beberapa kakaknya. Namun, adik bungsunya, Rahmad Rizki, 2, dalam kondisi kritis karena sempat hanyut terbawa tsunami.
Ramadhani dan Nursanti ditampung di rumah perangkat Desa Lampuyang. Mereka bertahan hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Selama beberapa hari, mereka tidak mendapat makanan yang layak. Maklum, jalur distribusi makanan dari Aceh terputus total. Kapal-kapal tidak ada yang
berani berlayar ke Pulo Aceh. Selama beberapa hari, Nursanti, Ramadhani, dan ratusan anak hidup terlunta-lunta. Situasi
bertambah sulit ketika kondisi Rahmad Rizki kian kritis. Dia sering menangis dan tidak mau makan.
"Badan adik sering panas, seperti kena demam," ujar Nursanti.
Tiga hari lalu, rombongan Ponpes Ulee Kareng tiba di pulau tersebut. Mereka membawa ratusan bocah itu ke ponpesnya di Banda Aceh. Nasib nahas menimpa Rizki. Bocah tersebut meninggal di gendongan Nursanti dalam perjalanan menuju Banda Aceh. "Saya nggak tahu adik sakit apa.
Saya baru tahu dia meninggal dunia saat kapal mau sampai di Aceh," aku Nursanti.
Di Ponpes Babun Najah, anak-anak yatim piatu itu dirawat dengan baik. Namun, mereka belum bisa
melanjutkan sekolahnya. "Sekolah di sini banyak yang hancur. Jadi, terpaksa mereka belum bisa kami sekolahkan," ujar Rizki Multazam, pengurus Ponpes Babun Najah.
Sepanjang pagi hingga malam, anak-anak tersebut hanya mendapat pelajaran agama. "Sarana dan prasarana pendidikan kami tidak memadai. Jadi, terpaksa anak-anak hanya kami bekali ilmu agama. Mudah-mudahan, ada donatur yang bersedia membantu pendidikan mereka," harap
Rizki. (*)
Selengkapnya...